Makassar – Perguruan tinggi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sangat dinamis. Untuk itu, perguruan tinggi harus berani berubah dan meninggalkan zona nyamannya.

Untuk menyikapi hal tersebut ABPPSTI Wilayah Sulawesi Selatan melaksanakan Lokakarya Nasional dengan isu utama pelaksanaan MB-KM (Merdeka Belajar-Kampus Merdeka) di Sulawesi selatan.

“Perguruan tinggi harus bisa menyesuaikan diri dan mencetak lulusan yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ungkap Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Plt. Dirjen Diktiristek), Nizam pada acara yang diselenggarakan Asosiasi Badan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Wilayah Sulawesi Selatan di Hotel Claro Makassar, Jumat (28/1).

Menurut Nizam, meskipun kurikulum pendidikan tinggi selalu disesuaikan, namun hal tersebut tidak relevan dengan perkembangan zaman yang bergerak cepat. Hal ini lantaran kurikulum yang disesuaikan setiap lima tahun adalah hasil evaluasi untuk lima tahun sebelumnya, sedangkan lima tahun ke depan dunia sudah berubah.

“Jika dianalogikan, ini seperti kartun Tom & Jerry, antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja selalu kejar-kejaran dan tidak pernah sesuai,” ujarnya.

Nizam pun menyampaikan bahwa pilihan terbaik dalam menyiapkan lulusan yang sesuai dengan perkembangan zaman adalah melalui program MB-KM ini. Perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah bersinergi dalam upaya menyambungkan pendidikan dengan berbagai aspek kehidupan di masyarakat melalui berbagai kegiatan hasil implementasi MBKM yang dapat dilakukan oleh mahasiswa.

 “Dunia berkembang begitu cepat, banyak pekerjaan yang kini digantikan oleh mesin. Baik perguruan tinggi maupun industri tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Karena itu, SDM unggul perlu kita siapkan bersama,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Plt. Dirjen Diktirisrek turut menyaksikan kegiatan penandatanganan pernyataan komitmen bersama terkait dukungan dalam hal pelaksanaan program MBKM antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Asosiasi Pedagang Indonesia (Apindo) Sulawesi Selatan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan, serta ABPPTSI wilayah Sulawesi Selatan.

Kadin Provinsi Sulawesi Selatan yang dalam kesempatan ini diwakili langsung oleh WKU Bidang Jasa Keuangan dan Dana/Saran Bapak Firdaus Deppu, SE mengatakan bahwa “Kadin dunia kerja, serta program seperti MB-KM yang di programkan oleh Kementrian Pendidikan tidak bisa dipisahkan karena Kadin merupakan induk dan pusat bagi para pengusaha dimana Kadin salah satunya hadir untuk itu” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut Kadin Sulsel berpendapat bahwa generasi muda harus bersyukur karena pada saat ini semakin banyak dukungan dari pemerintah, lembaga dan organisasi seperti Kadin untuk menjadi seorang entrepeneurship dan masuk kedalam dunia bisnis.

“Kadin sangat terbuka dan memperhatikan setiap kampus-kampus yang ingin bersama dalam menyukseskan program MB-KM ini sehingga kedepannya mindset para anak muda tidak lagi terpusat pada menjadi seorang pegawai negeri selepas menjadi sarjana tapi bagaimana mereka bisa menjadi seorang entrepreneur” ungkapnya

Pada tahun tahun mendatang kegiatan bisnis akan semakin berkembang terutama pada beberapa sektor yaitu tekhnologi dan kesehatan. Hal ini tentu sangat sejalan dengan kondisi saat ini dimana perekeonomian sangat bertumpu pada kedua bidang ini dalam membantu pemerintah untuk memulihkan ekonomi akibat pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *